Postingan

Mengkubis Puisi-puisi karya Mashuri yang berjudul "Hantu Kolam", "Hantu Musim", dan "Hantu Dermaga"

  Bagi pembaca pasti tidak asing dengan karya sastra yang berbentuk puisi. Puisi kali ini yang kita bahas adalah puisi karya Mashuri. Ada tiga judul puisi yang akan kita bahas yakni “Hantu Kolam”, “Hantu Musim”, dan “Hantu Dermaga”. Bagi orang awam pasti mengartikan judul ketiga puisi tersebut bermakna bayangan-bayangan hantu dalam dimensi berbeda. Agar tidak penasaran dalam ketiga puisi tersebut, mari kita kupas secara singkat. Yukk cus baca Puisinya dulu lalu kita kupas. Selamat Membaca Puisi terlebih dahulu! Puisi 1 Hantu Kolam : plung! di gigir kolam serupa serdadu lari dari perang tampangku membayang rumpang   mataku berenang be rsama ikan-ikan, jidatku terperangkap koral di dasar yang separuh hitam dan gelap tak ada kecipak yang bangkitkan getar dada, menapak jejak luka yang sama di medan lama   segalangnya dingin, serupa musim yang dicerai matahari aku terkubur sendiri di bawah timbunan rembulan segalanya tertemali sunyi mu...

Makna ketidakadilan CERPEN "Sulastri dan Empat lelaki" karya M. Shoim Anwar

       Kali ini kita akan membahas sebuah cerita pendek yang menarik nih. Cerita pendek yang berjudul Sulastri dan Empat Lelaki karya Shoim Awar. Cerita pendek Sulastri dan Empat Lelaki tersebut cerita yang fiktif namun isinya mengandung suatu informasi yang sepele. Sebelum masuk dalam cerita pendek tersebut, mungkin bagi orang sastra menimbulkan sebuah pertanyaan dengan kali pertama membaca judulnya. Apakah terjadi ketidakadilan gender? Feminisme apa lagi? Atau buat orang pada umumnya akan bertanya. Ada apa dengan Sulastri? Kenapa dengan empat lelaki?. Yaaa, mungkin itu kesan pertama saat membaca judulnya. Yuk kita ulas sedikit tentang c erita pendek Sulastri dan Empat Lelaki karya Shoim Anwar mengisahkan nasib seorang Sulastri yang memiliki permasalahan besar dengan banyak lelaki. Sulastri sudah menikah dan memiliki suami yang bernama Markam. Pasangan suami istri tersebut bertempat tinggal di daerah sekitar Tegal-Bengawan Solo. Kehidupan pasangan suami istri te...

Kritik Esai sebuah Cerpen "Di Jalan Jabal Al-Kaabah" karya M. Shoim Anwar

 Apa kabar nih? Lancar puasanya? Tema hari ini kita akan mengulas sedikit kisah tentang perjalanan seorang kepala desa Tuan Amali dan Nyonya Tilah beribadah di tanah suci. Pada cerpen tersebut menggambarkan hal yang terjadi di sekitaran Makkah, bahwa disana juga ada seorang pengemis yang sebelumnya beranggapan tidak mungkin ada di tanah suci. Namun, dalam cerpen tersebut terdapat kejadian sekelompok pengemis anak kecil yang tetap bertahan hidup karena Pak Tilah memiliki rasa ibah, mama memberikan sedikit uang kepada anak tersebut. Beberapa saat kemudian anak mengemis tersebut ternyata diperalat oleh perempuan bercadar hitam dengan membohongi bahwa sebenarnya mereka normal tidak cacat.  Ada beberapa makna yang sering terjadi di dunia ini yakni, manusia berhak bertahan hidup asalkan dengan pekerjaan yang halal, percayalah bahwa rezeki, jodoh dan maut Allah sudah menuliskan, yang terakhir jangan pernah khawatir segala sesuatu yang terjadi akan tetap terjadi jika memang sudah di g...

Bercembu dalam Cerpen "Tahi Lalat" karya M. Shoim Anwar

Mari kita bercembu lebih jauh dan lebih merasakan nikmat rasa dalam cerita pendek dengan judul "Tahi Lalat". Bagi yang belum tahu isi cerita yang terkandung dalam cerpen tersebut, kini akan dikupas secara singkat apa saja rasa dan kenikmatan dalam cerita pendek tersebut. Bagi kita mulai pemanasan dulu, pertama membaca sebuah cerpen tersebut terdapat gambaran atau lukisan seorang pejabat desa yang sedang mempermainkan warga, bahkan memaksa supaya menjual lahan untuk dijadikan sebuah rumah yang indah layaknya di Kota. Dari awal sudah bisa dilihat atau diraba bahwa makna dalam cerita pendek tersebut timbul rasa permainan di dalamnya. Permainan yang panas, pejabat menjanjikan ini itu tetapi mengingkari semua perjanjiannya. Untuk yang kedua, tentang simbol yang sangat menarik bagi pembaca yakni tahi lalat yang terdapat pada dada istri lurah. Pasti kalian pertama kali membaca judul tersebut terheran-heran, apa sih yang dimaksud penulis tentang tahi lalat tersebut. Bagi saya, penuli...

Kritik dalam Bentuk Cerita Pendek “Sisik Naga di Jari Manis Gus Usap” karya M. Shoim Anwar

Pesan yang disampaikan oleh penulis melalui sebuah cerita pendek dengan judul Sisik Naga di Jari Manis Gus Usap . Sebuah cerita pendek yang dikemas dengan estetika tetapi, membuat pembaca lebih keras untuk memahami maksud dari pengarang dalam isi cerita pendek. Baiklah, marilah menguraikan sebuah cerpen dengan singkat yaaa.   Cerpen tersebut menceritakan tentang orang yang sedang melakukan permainan kartu remi. Di dalam permainan tersebut Gus Usup yang sering menang, namun ketika menang hasil dalam permainan tersebut tidak dibawah pulang bahkan dibagikan kepada mereka yang ikut dalam permainan tersebut. Sampai suatu ketika Guk Mat pun menang dalam pertandingan kartu remi dan sampai dirumah tanpa sadar didalam jaket Gus Usup yang dititipkan padanya ada akik sisik naga. Timbulah rasa untuk memilikinya. Dari cerita pendek ini menunjukkan adanya beberapa simbol yang sangat menonjol yaitu: v Kartu Remi , permainan yang sering kita jumpai dalam kalangan masyarakat. Tanpa kita sada...

Kritik Puisi tentang para Ulama dengan judul "Ulama Abiyasa Tak Pernah Minta Jatah"

  Untuk kali ini kita akan membicarakan tentang sebuah puisi yang ditulis oleh M. Shoim Anwar. Puisi tersebut memakai judul “Ulama Abiyasa Tak Pernah Minta Jatah” dalam puisi tersebut kita akan mengupas sedikit kritik tentang bentuk puisi dengan baik dan tidak lupa menyangkutpautkan dengan kehidupan saat ini. Sebelum mengupas tuntas makna dalam setiap bait puisi tersebut, puisi ini terdiri dari tiga bait yang membahas tentang sebuah ulama yang tidak pernah meminta jatah.  Agar tidak membuat penasaran, yuk langsung kita kupas setiap baitnya. Bait pertama: Ulama Abiyasa adalah guru yang mulia Panutan para kawula dari awal kisah Ia adalah cagak yang tegak Tak pernah silau oleh gebyar dunia Tak pernah ngiler oleh umpan penguasa Tak pernah ngesot ke istana untuk meminta jatah Tak pernah getar oleh gertak sejuta tombak Tak pernah terpana oleh singgasana raja-raja   Dapat diartikan bahwa bait pertama sering kali dihubungkan dengan   berbagai hal, dalam ...

Puisi “Ulama Durna Ngesot Ke Istana” karya M. Shoim Anwar

  Kritik Puisi “Ulama Durna Ngesot Ke Istana” karya M. Shoim Anwar   Puisi selalu menggungkapkan semua keresahan yang menceritakan semua perjalanan seorang penulis kemudian dituangkan dalam sebuah bait-bait puisi dengan diksi yang indah. Makna dalam puisi tersebut terdapat keanehan dalam penyalagunaan gelar untuk kepentingan pribadi. Sebuah tokoh yang menceritakan suatu ulama yang menggandaikan gelarnya kepada pemerintahan demi keuntungan dan kepentingan salah satu pihak. Berdasarkan bentuknya puisi tersebut terdiri dari empat bait, yang diawali dengan kata “lihatlah” dan rima yang cukup seragam yakni “a” dan “h”.  Berikut uraian makna dalam tiap bait: Dalam bait pertama terdapat tokoh ulama Durna yang sedang menjilat agar mendapatkan keuntungan dalam kekuasaan yang dianggap penting untuk menyombongkan diri. Dalam puisis tersebut juga menyuguhkan beberapa diksiyang membuat suatu kebernaran sehingga memiliki tingkah laku dianggap benar. Uraian makna terdapat pada bai...